Banjar Raya Post, BANJARBARU – Musim kemarau di Kalimantan Selatan (Kalsel) diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober. Kondisi ini membuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih perlu diperkuat sebelum musim hujan tiba.
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni mengatakan, berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan normal diperkirakan baru mulai turun sekitar 10 hari setelah memasuki November.
“Musim hujan di Kalsel diperkirakan datang lebih lambat. BMKG menyebut hujan normal diprediksi baru datang sekitar 10 hari memasuki November, sehingga kita masih ada waktu 50 hari untuk diantisipasi,” katanya saat kunjungan kerja, di Posko BPBD Kalsel, RSJ Sambang Lihum, Gambut, Kabupaten Banjar, Rabu (23/9/2026).
Raja Juli mengatakan, dalam kondisi Karhutla saat ini, kekuatan darat masih menjadi garda terdepan pemadaman. Menurutnya, dukungan udara belum maksimal dalam menangani kebakaran. Saat ini pemerintah mengerahkan enam helikopter bombing khusus untuk pemadaman Karhutla. Dua pesawat lainnya digunakan untuk mendukung operasi modifikasi cuaca (OMC) dan patroli.
Untuk mendukung penanganan di daerah, pemerintah pusat mengalokasikan bantuan melalui Belanja Tak Terduga (BTT) sebesar Rp100 miliar. Anggaran tersebut di luar anggaran yang tersedia di Kementerian Kehutanan, BNPB, Kementerian Lingkungan Hidup, serta kementerian dan lembaga lainnya.
Raja Juli juga menyebut personel dari berbagai unsur dapat dilibatkan dalam satu tim penanganan Karhutla, seperti Polri, TNI, Manggala Agni, BPBD, relawan pemadam kebakaran hingga Masyarakat Peduli Api (MPA).
“Nanti silakan personelnya digabung jadi satu tim, tidak apa-apa. Bisa Polri, TNI, Manggala Agni, BPBD, relawan pemadam kebakaran ataupun Masyarakat Peduli Api (MPA), asal jangan overlapping dan Rp150 ribu per hari,” ujarnya. Selain itu, Kemenhut juga mengalokasikan Rp20,9 miliar untuk penanganan Karhutla.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Syamsudin Noor, Ota Welly Jenny Thalo, mengatakan puncak kemarau di Kalsel masih berlangsung hingga Oktober. Meski demikian, OMC tetap dilakukan untuk meningkatkan peluang hujan dan mengurangi dampak cuaca panas yang dirasakan di wilayah Kalsel.
Berdasarkan data Automatic Rain Gauge (ARG), curah hujan di Kalsel masih sangat minim. Hujan yang terdeteksi hanya terjadi di Kabupaten Tabalong dengan intensitas 0,10 milimeter. “Untuk awannya memang ada potensi di utara, ada hujan di sana dan titiknya itu di Tabalong,” kata Ota.
Untuk periode 24-28 September, BMKG memprakirakan peluang pertumbuhan awan hujan di Kalsel berada pada kategori tinggi, yakni sekitar 50-70 persen. Potensi tersebut terutama terdapat di wilayah utara, barat serta sebagian timur Kalimantan Selatan.
Berdasarkan model IFS (Integrated Forecasting System), cuaca Kalsel secara umum diprakirakan cerah hingga berawan, dengan potensi hujan ringan di sejumlah wilayah.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Kalsel, Klaus Johannes Apoh Damanik, mengatakan awal musim hujan diprediksi mulai terjadi pada November. Namun, waktunya tidak serentak di seluruh wilayah Kalsel. “Tetapi, waktunya tak serentak di seluruh Kalsel,” ujarnya. (WAN/ELF)


Komentar